MENGULAS “MANTRA” DALAM ASPEK PSIKOLOGI

Mengulas “MANTRA” dalam Aspek Psikologi

Penulis: Muh. Shirli Gumilang

Tulisan ini berisi tentang review buku yang berjudul “MANTRA” karya sang mentalistpublic speaker handal, youtuber terkenal di Indonesia yaitu Master Deddy Corbuzier. Buku dengan ketebalan 209 halaman ini berisi sebuah “Mantra” yang dapat membantu pembaca dalam mendapatkan apa yang menjadi keinginannya. Bukan dalam arti yang sesungguhnya. Buku ini sama sekali tidak berisi kumpulan mantra yang dapat mengeluarkan kelinci di dalam topi pesulap, atau tongkat yang diacungkan untuk mengubah batu menjadi berlian. Buku ini juga tidak mengajarkan para pembacanya untuk dapat melakukan “Sihir”. Buku ini juga tidak terkait dengan bantuan Jin atau hal Ghoib lainnya.  Namun sepenuhnya buku ini berisi tentang paradigm shifting dengan mengikuti konsep psikologi umum.

Di halaman awal, buku tersebut sudah diberikan peringatan atau disclaimer tentang bagaimana cara dalam menggunakan buku tersebut. Sebagai pembuka buku ini menceritakan tentang tiga pangeran dan kisah dari seorang penyihir bernama Divka, cerita fiksi tersebut terkandung sebuah seni berkomunikasi yang berhubungan dengan ilmu psikologi. Bagaimana caranya merangkai kata dan kalimat supaya dapat mempengaruhi, bahkan memanipulasi pikiran orang lain. Dan itulah “Mantra” yang dimaksud Master Corbuzier di buku ini.

Dalam memahami buku ini, saya membaginya ke dalam dua bagian utama, yaitu bagian pertama tentang linguistic deception art, bagian kedua tentang body perception. Bagian yang pertama membahas tentang metode praktis berkomunikasi termasuk mendeteksi kebohongan lawan bicara secara instan dan Bagian yang kedua merupakan bonus buku “Divka: Sebuah Dialog Tanpa Batas” membahas sudut pandang Master Corbuzier tentang hidup. Sudut pandang yang monolog dihubungkan dengan dialog antara dia dengan tokoh fiksi. Bagian kedua berisi percakapan antara manusia dan sebuah makhluk yang siap menjawab segala permasalahan hidup beserta solusinya. Satu hal yang begitu mencuri perhatian saya adalah, bahwa kunci menjadi kaya bukanlah menyibukkan diri mencari uang siang malam, melainkan carilah teman sebanyak-banyaknya. Kemudian rumus kehidupan, rahasia kehidupan, dan jawaban dari inti kehidupan hanyalah dengan menjadi air. Ya, sesederhana itu, namun tidak semudah itu.

Buku ini, seperti sebuah olahan masakan dengan daging yang padat, bumbu yang pekat, rasanya lezat, karena pada bab selanjutnya berjudul Mantra yang mengulas psikologi komunikasi begitu mudah dicerna. Contoh-contoh yang diberikan sangat dekat dengan masyarakat. Bahasanya sederhana, gampang dimengerti oleh kalangan manapun. Memang, buku ini bukan buku pelajaran psikologi komunikasi biasa. Ini adalah karya yang mampu menyentuh titik bawah sadar pembaca. Membacanya merasa seperti sedang berbincang langsung dengan si penulis. Secara otomatis, kita seperti terhipnosis untuk hidup lebih baru, lebih semangat dan optimis.

Berikut adalah ulasan atau komentar saya setelah membaca buku ini ;
Pertama, saya membaca buku ini di awal tahun 2020 melalui buku digital dalam bentuk file *pdf yang tersebar di internet. Karena tidak nyaman membaca dokumen (buku -red) melalui HP akhirnya saya tidak melanjutkan membaca buku tersebut. Saya kira, bagian untuk menghargai sebuah karya adalah tidak menggunakan versi bajakan. Suatu saat saya mendapat kesempatan untuk membuat list pembelian buku dari Perpustakaan – PSB (Pusat Sumber Belajar), saya pun menambahkan buku “MANTRA” kedalam list tersebut. Setelah datang bukunya, saya pun kaget karena yang datang adalah versi bajakan. Menurut info, memang sulit mencari versi aslinya dan harganya jauh lebih mahal.

Kedua, buku ini bukan berisi sebuah teori yang rumit dalam menjelaskan konsep psikologi. Dengan dikemas dalam bentuk cerita fiktif pembaca dibawa dalam suasana konflik yang terasa nyata, sehingga dalam memahami buku ini cukup mudah. Buku ini juga disertai dengan perumpamaan-perumpamaan sehingga mudah dimengerti dan masuk dalam memory jangka panjang pembacanya.

Ketiga, yang menurut saya menjadi kelemahan dalam buku ini yaitu tidak terdapatnya daftar isi yang dapat menggambarkan keseluruhan isi buku tersebut. Daftar isinya hanya terdiri dari dua Bab saja, dan itu tidak cukup menggambarkan isi buku tersebut. Bagi saya yang tipe membacanya adalah pembaca selektif, saya lebih suka membaca dari topik yang terdapat dalam daftar isi sesuai dengan selera saya. Dengan kata lain saya jarang membaca tuntas kata demi kata, halaman demi halaman. Yang terpenting adalah saya dapat memahami konteks atau makna dari sebuah buku. Dan sangat di sayangkan dalam buku ini tidak ada daftar isi yang dapat membantu saya. Walau demikian, tetapi saya terbantu dengan adanya peringatan tentang bagaimana cara membaca buku ini.

Keempat, bagi yang penasaran dan ingin belajar tentang psikologi yang kaitannya dengan cara mengubah sudut pandang, berkomunikasi untuk mempengaruhi, dan mendalami karakteristik lawan bicara silakan mampir ke PSB dan pinjam bukunya atau silakan cari di market place.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]