UNTUK APA SIH MENYEKOLAHKAN ANAK KE PAUD? (Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023)

Untuk Apa Sih Menyekolahkan Anak ke PAUD?

Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2023

Oleh: Andi Ahmadi

Lebaran tahun ini menjadi lebaran yang menguji kesabaran saya dan istri. Bagaimana tidak, setiap kami berkunjung ke rumah saudara selalu ada pertanyaan yang membuat kami menghela napas. Pertanyaan yang tak kalah menggemaskan dengan pertanyaan kapan nikah atau kapan punya momongan.

Pertanyaan yang saya maksud adalah pertanyaan mengenai tumbuh kembang anak pertama kami yang tahun ini usianya menjelang 6 tahun. Pertanyaan standard untuk anak usia tersebut adalah “sudah sekolah atau belum?” Pertanyaan tersebut masih mudah untuk dijawab, kebetulan anak kami memang sudah bersekolah pada jenjang TK A. Pertanyaan berikutnya adalah “sudah bisa membaca atau belum?” Nah, di situ kami mulai menangkap ada sesuatu yang kurang mengenakkan. Benar saja, ketika kami jawab “belum bisa”, keluarlah pertanyaan pamungkas “sudah sekolah kok belum bisa membaca?”

Awalnya kami biasa saja menanggapi pertanyaan semacam itu. Namun kami mulai gerah ketika yang bertanya seperti itu bukan hanya satu orang. Bahkan ada keluarga dekat yang secara terang-terangan menyuruh kami agar mengajari anak kami membaca. Hal tersebut dilatarbelakangi karena ada sepupu anak kami yang usianya sepantaran sudah lancar membaca.

Lantas saya merenung, apakah rata-rata orang tua berpikir bahwa tujuan menyekolahkan anak ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah sekadar untuk bisa membaca? Jangan-jangan yang selama ini membuat sebagian PAUD mengajarkan calistung kepada murid-muridnya adalah karena tuntutan dari orang tuanya?

Kalau kita lihat kebijakan pemerintah mengenai pembelajaran di PAUD, capaian pembelajaran yang ingin dikuatkan pada anak usia dini adalah Nilai Agama dan Budi Pekerti; Jati Diri; dan Dasar-dasar Literasi, matematika, Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Seni (STEAM). Secara detail, capaian pembelajaran pada PAUD sebagai berikut:

  • Anak menunjukkan kemampuan mengenali dan memahami berbagai informasi seperti gambar, tanda, simbol, dan cerita.
  • Anak mampu mengomunikasikan pikiran dan perasaan secara lisan, tulisan, atau menggunakan berbagai media serta membangun percakapan.
  • Anak menunjukkan minat dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca.
  • Anak menunjukkan rasa ingin tahu melalui observasi, eksplorasi, dan eksperimen.
  • Anak mengenal, mengembangkan sikap peduli dan tanggung jawab dalam pemeliharaan alam, lingkungan fisik, dan sosial.
  • Anak menunjukkan kemampuan awal menggunakan dan merancang teknologi secara aman dan bertanggung jawab.
  • Anak menunjukkan kemampuan dasar berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
  • Anak dapat mengenali dan melihat hubungan antarpola, simbol, dan data serta dapat menggunakannya untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari.
  • Anak mengeksplorasi berbagai proses seni, mengekspresikannya, serta mengapresiasi karya seni.

(Puskurbuk Kemdikbudristek, 2021).

Jika kita perhatikan, untuk elemen dasar-dasar literasi luaran yang diharapkan bukanlah anak bisa membaca, melainkan anak menunjukkan minat dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca. Kegiatan pramembaca adalah kegiatan yang bertujuan untuk mempersiapkan anak sebelum mereka benar-benar memulai proses belajar membaca pada tingkat pendidikan formal (SD). Dengan demikian yang terpenting adalah bagaimana melatih anak untuk mengembangkan kemampuan berpikir, berbicara, dan mengenal kosakata, sehingga mereka siap untuk memasuki dunia membaca pada waktunya nanti.

Kemdikbud melalui Merdeka Belajar episode ke-24 bahkan secara jelas mengatakan bahwa ada enam kemampuan fondasi anak yang perlu dibangun secara kontinu dari PAUD hingga kelas dua SD. Enam kemampuan fondasi tersebut yaitu: mengenal nilai agama dan budi pekerti; keterampilan sosial dan Bahasa; kematangan emosi; kematangan kognitif; keterampilan motorik dan perawatan diri; pemaknaaan terhadap belajar yang positif. Berdasarkan penjelasan tersebut kita perlu mengakhiri miskonsepsi bahwa pembelajaran di PAUD untuk mengajarkan anak calistung. Kurikulum Merdeka bahkan tidak mewajibkan siswa kelas satu SD untuk membaca.

Meski demikian, bukan berarti anak usia dini belum boleh membaca. Jika ada anak yang sudah bisa membaca sejak usia dini tentu hal yang bagus. Pemahaman yang tidak dibenarkan adalah mengukur keberhasilan belajar di PAUD hanya dari kemampuan membaca, sehingga memaksa anak harus bisa membaca. Terlebih lagi jika membandingkan kemampuan membaca anak yang satu dengan anak yang lain. Setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda. Bisa jadi anak yang cepat bisa membaca karena memiliki kecerdasan bahasa.

Sebagai orang tua saya tidak pernah khawatir anak kami belum bisa membaca di usia dini. Saya sudah sangat bahagia melihat perkembangan pada diri anak kami seperti rajin ikut ke masjid, duduk saat makan dan minum, membuang sampah pada tempatnya, suka berbagi, mau bersosialisasi dengan teman-temannya, mau merapikan sendiri mainannya, dan yang tidak kalah penting: suka dengan buku. Hal-hal seperti itu yang barangkali orang lain tidak perhatikan.

Bagi para orang tua yang memiliki anak usia dini, jangan pernah berkecil hati ketika sang buah hati belum bisa membaca. Percayalah bahwa pada saatnya nanti mereka pasti akan bisa membaca. Syaratnya, kita tumbuhkan pada diri anak kita rasa cinta terhadap ilmu pengetahuan, kemudian jadikan diri kita sebagai teman belajar bagi mereka.

Selamat Hari Pendidikan Nasional!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]