SLI DAN KOMED BERSAMA GERAKKAN LITERASI NEGERI

SLI dan KOMED Bersama Gerakkan Literasi Negeri

Oleh: Titin Mulyaningsih, M.Pd., Kontributor

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) merupakan program dari Lembaga Pengembangan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) yang bertujuan mewujudkan model sekolah berkualitas yang berkonsentrasi pada peningkatan kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi. Pada 2021 SLI mendapatkan amanah dari Program Organisasi Penggerak (POP) Kemdikbud Ristek dengan nama program Sekolah Pembelajar yang mempunyai tujuan mengoptimalisasi budaya sekolah berbasis literasi melalui intervensi Metode Uswah kepada kepala sekolah dan penerapan 10 Nilai Kepemimpinan Guru.

Salah satu upaya dalam membentuk komunitas sebagai wadah belajar guru di 11 wilayah dampingan POP, SLI menyelenggarakan Fun KOMED Activities (FKA). KOMED merupakan salah satu komunitas sebagai wadah belajar bagi guru yang berfokus dalam konten pengembangan media pembelajaran.

Program Organisasi Penggerak berupa Pengembangan Literasi di sekolah-sekolah di berbagai wilayah di Indonesia. Program Organisasi Penggerak adalah sebuah program yang dibuat oleh Kemendikbud guna mendorong hadirnya Sekolah Penggerak yang melibatkan peran serta organisasi. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas guru, kepala sekolah dan tenaga kependidikan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

SLI menggandeng Komunitas Media Pembelajaran yang berada di bawah naungan Dhompet Dhuafa untuk turut serta menyukseskan keberhasilan pengembangan Gerakan Literasi Nasional (GLN). Sebanyak 12 pengurus KOMED diutus sebagai narasumber dalam kegiatan POP-Fun KOMED Activities di 15 wilayah yang tersebur di pelosok Indonesia. Kedua belas pengurus tersebut yaitu Arie Wijayanti (Bogor), Suyanto (Donggala), Hj. Anita (Takalar), Fajar Kurnia Aji (Gowa), Darma Yeliza Putra (Asahan), Ira (Batu Bara), Titin Mulyaningsih (Bima), R. Ida Wardatul (Dompu), Purwanty Setyawati (Lombok Timur), Febri Reviani (Hulu Sungai Utara), Purwato (Kulon Progo), dan Mirna Kartika (Denpasar).

Keduabelas narasumber ini membawa misi Modul Kelas Literasi Kreatif (KLiK) dan pelaksanaan Workshop Media Pembelajaran Sederhana. Modul ini merupakan jabaran tahapan pemilihan aktivitas berbasis literasi. Konsep KLiK yang disusun oleh Tim Sekolah Literasi Indonesia ini merupakan sebuah konsep implementatif aktivitas multiliterasi, bermakna, yang dikemas secara kreatif dan menyenangkan.

Literasi tidak semata kegiatan membaca dan menulis, namun lebih dalam dan bermakna. Aktivitas literasi harus mengarah pada tujuan yang jelas, dengan tahapan yang terstruktur, berpusat pada anak, kontenstual, dan sebuah aktivitas yang menyenangkan namun mampu memberi makna yang dalam. Multiliterasi disini berarti memadukan beberapa aktivitas literasi dari enam literasi dasar. Enam literasi dasar yaitu literasi baca tulis, sains, numerasi, digital, finansial, dan bidaya serta kewargaan. Dalam aktivitas ini pun memuat kompetensi abad 21. Bagaimana mencipta aktivitas yang mampu merangsang berpikir kritis, kerativitas, komunikasi, dan kolaborasi bagi anak.

Aktivitas KLiK ini pun dipilih dengan dasar prinsip kontekstual, tepat sasaran, novelty atau kebaruan, dan implementatif. Aktivitas ini diharapkan tidak membebani guru, tapi sebaliknya, membantu guru dalam mewujudkan generasi yang literat.
Aktivitas literasi inipun diharapkan mampu menumbuhkan nilai pelita diri atau nilai karakter pada diri anak. Secara garis besar tahapan literasi dalam modul KLiK ini dapat diuraikan seperti Li yang berarti lihat dan amati. Anak perlu diajak untyuk melihat dan mengamati langsung setiap fenomena yang ada di sekitarnya. Tahap selanjutnya, Te yang berarti tentukan masalah/tetapkan tujuan. Fenomena yang diamati anak akan mengundang berbagai pertanyaan sebagai penemuan masalah yang membutuhkan penjelasan. Dari masalah yang mereka temui, akan berlanjut untuk menemukan solusi sebagai tujuan. Selanjutnya, Ra, rangsang pemahaman anak. Anak diajak untuk memahami melalui percobaan, demonstrasi, membuat karya, yang bisa membantu memperoleh pemahaman dari apa yang sedang dipelajari. Tahap akhir adalah Si, simpulkan hasilnya. Anak belajar untuk menarik kesimpulan dari fenomena, percobaan dalam pembelajaran yang dilakukannya. Kesimpulan yang diperoleh diharapkan mampu diimplementasikan oleh anak dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai yang tidak kalah pentingnya, adalah menumbuhkan nilai spiritual dalam diri anak, baik hubungan secara vertikal dengan sang Pencipta, Allah SWT, maupun secara horizontal hubungan manusia dengan manusia dan lingkungan alamnya.

Narasumber menyampaikan implementasi modul KLiK ini secara menyenangkan dalam bentuk demonstrasi maupun melakukan percobaan sederhana. Dalam workshop media pembelajaran sederhana, guru-guru diajak untuk mencipta media pembelajaran yang menarik, sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Masing-masing narasumber berangkat di hari yang berbeda. Banyak cerita penuh kesan yang dibawa pulang. Mulai dari perjalanan, setibanya di lokasi yang bukan perkotaan, pada saat berkegiatan, hingga cerita kepulangan yang seru. Ada sebagian sebagai pengalaman pertama terbang, mengunjungi wilayah pelosok nusantara, perjalanan sendiri dan mandiri. Cerita-cerita yang pastinya menjadi kenangan dan pengalaman dalam rangka pengembangan kompetensi diri. Semoga perjalanan penuh cerita ini menjadi penyemangat diri setelah melihat sendiri pembelajaran di daerah lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]