SLI BEKALI PENGAYAAN OPTIMALISASI PERPUSTAKAAN KE 11 WILAYAH SASARAN POP

SLI Bekali Pengayaan Optimalisasi Perpustakaan ke 11 Wilayah Sasaran POP

Selain berkunjung ke Dinas Pendidikan dan memfasilitasi pembentukan Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) di wilayah sasaran Program Organisasi Penggerak (POP), tim Sekolah Literasi Indonesia (SLI) juga menggelar Pelatihan Manajemen Perpustakaan.

Pelatihan tersebut diagendakan dalam rangka memperkaya pengetahuan guru dan kepala sekolah tentang optimalisasi perpustakaan. Pelatihan dikemas secara kreatif dan interaktif, mencakup diskusi peran guru, kepala sekolah, dan pustakawan dalam pengembangan perpustakaan, praktik penyusunan program literasi, praktik layout perpustakaan, dan praktik penjenjangan buku.

 

Pelaksanaan Pelatihan tersebut berlangsung di seluruh wilayah sasaran POP SLI di waktu yang berbeda. 16 Februari di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Dompu, 17 Februari di Kabupaten Asahan, 19 Februari di Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa, 24 Februari di Kabupaten Bima, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Donggala, Kabupaten Batu Bara dan Kabupaten Hulu Sungai Utara, serta 28 Februari di Kabupaten Bogor.

Peserta yang mengikuti rangkaian pelatihan yang dikemas secara menyenangkan tersebut merasa sangat senang dan bisa lebih menambah khasanaha kelimuan mereka tentang manajemen perpustakaan. “Menginspirasi sekali, saya sebagai pendidik merasa lebih tercerahkan dengan ilmu yang telah diberikan sehingga ke depannya siap untuk semakin berdaya dalam mengembangkan perpustakaan saya di sekolah. Selain itu semakin banyak pula referensi dan gambaran aktivitas literasi kreatif yang ke depannya bisa saya dan rekan guru lainnya kembangkan,” tutur Ari Sulastri, guru dari sekolah dampingan Kabupaten Donggala.

Selain itu peserta guru dari Kabupaten Batu Bara juga turut memberikan kesan pasca kegiata pelatihan. “Pelatihan manajemen perpustakaan ini memberikan banyak sekali manfaat dalam pengaturan perpustakaan di sekolah kami, dari segi penjabaran tentang jenjang buku, di mana anak bisa diberikan pemahaman tentang buku yang sebaiknya harus mereka baca dengan mengenalkan tanda-tanda buku yang sesuai serta pengaturan administrasi buku, tutur Vera Sasmita.

Semoga dengan digelarnya aktivitas pelatihan manajemen perpustakaan tersebut, perpustakaan tak hanya sekadar bangunan penyimpanan buku, atau pun sekadar tempat untuk membaca, melainkan juga menjadi tempat yang berfungsi sebagai sarana rekreatif, kultural, dan informatif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]