Belajar Menulis Puisi 2.0

SEPATU

sepasang

menyelimuti kedua kaki

mengantarku setiap langkah

selaras

dan setia

_____________Surabaya, 01022023

Puisi di atas saya tulis sebagai tugas dalam sebuah pelatihan menulis puisi. Pelatihan yang digagas oleh Rumah Virus Literasi. Praktik menulisnya dilakukan di tengah-tengah acara, dan dalam waktu singkat. Waktu yang diberikan kurang lebih lima menit. Ada sekitar dua puluh lima peserta beradu cepat menciptakan puisi semacam itu. Puisi tersebut disebut puisi 2.0.

Belakangan ini memang banyak bermunculan bentuk-bentuk puisi. Dari pentigraf, telelet, dan terakhir yang saya ketahui puisi 2.0. Apa yang dimaksud puisi 2.0? Sebenarnya secara puisi tidak ada perbedaan dengan Puisi-puisi pada umumnya. Kekuatan puisi ini ada pada diksi dan ide. Selain diksi, penggunaan metafor dan irama juga bisa digunakan dalam proses penciptaan.

Lantas dimana poetika puisi ini? Jika kita perhatikan, puisi ini masuk dalam puisi pendek. Ya, memang puisi pendek, karena aturan utamanya isi puisi 2.0 tidak boleh lebih dari dua puluh kata. Kurang dari itu tidak ada masalah. Aturan lainnya juga masalah teknis. Cara penulisan judul harus huruf besar semua, serta setiap kata pada isi semua ditulis dengan huruf kecil. Huruf kecil ini dikecualikan pada kata yang memang sudah diatur di KBBI. contohnya, nama tempat tetap diawali dengan huruf besar, dll.

Dengan dibatasi jumlah kata, kita dituntut untuk memilih diksi yang memiliki kedalaman makna. Setiap diksi harus memawakili makna yang mendalam, sehingga apa yang kita tulis tidak hanya buaian kata. Untuk mencapai ini diperlukan sebuah fokus. Penulis harus berdiri dalam satu sudut pandang terhadap objek atau ide yang akan dituangkan dalam sebuah puisi.

Teknik menulis puisi ini sangat cocok jika digunakan sebagai metode pembelajaran dalam menulis puisi bagi siswa. Dengan jumlah kata yang terbatas, sangat mungkin siswa menuliskan puisi. Untuk satu puisi siswa hanya diminta maksimal menuliskan dua puluh kata. Pada umumnya permasalah siswa dalam menulis fiksi, baik cerpen atau pun puisi. Mereka kesulitan dalam pembendaharaan kata atau diksi.

Walau pun teknik ini merupakan teknik menulis puisi yang sederhana, bukan berarti hanya untuk siswa saja. Sebagai guru atau orang dewasa pun tidak salah berkarya dan mengasah kreativitas dengan puisi 2.0. Jika siswa bisa menghasilkan karya dengan teknik ini, saya yakin guru pun pasti lebih bisa. Hasil karyanya pun akan lebih kreatif dan memiliki makna yang mendalam dibandingkan hasil karya siswa. Namun disamping itu, yang lebih utama adalah mari kita sebarkan virus literasi ini.

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Penulis: Agustia Redaktur: Fitriana Mahmudidn Bangun TBM di Kampung Halamannya, Kang Oni Ibarat Menyalakan[…]