6 PEREMPUAN PENGGERAK LITERASI NUSANTARA

6 Perempuan Penggerak Literasi Nusantara

Oleh: Nurul Aeni

Literasi menjadi PR yang tidak pernah selesai, dari dulu hingga kini berbagai program dan gerakan tengah mewarnai negeri ini. Berkali-kali mengikuti tes PISA, Indonesia tetap saja tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Terlepas dari bagaimana sistem pemerintahan di  negeri ini, literasi seolah menjadi PR yang dipelihara. Kita semua tahu bahwa setiap zaman terdapat para pejuang literasi, yang mencoba membawa penerang bagi masyarakat buta aksara.

Buta aksara membuat manusia tidak bisa melihat kebenaran dan keindahan. Buta literasi membuat manusia tidak memiliki kemampuan untuk sejahtera. Perkembangan zaman menghantarkan kita pada kemajuan, terutama karena adanya teknologi, tetapi kemajuan itu pula memberikan kepada manusia tantangan baru. Banyak hal berubah, dinamika sosial berubah, kebutuhan berubah dan perubahan itu perlu diiringi oleh kecakapan manusia dalam literasi.

Di antara kita selalu ada yang terdepan dalam mengambil peran, mereka yang di masa lalu jejak langkahnya tercatat dalam buku-buku sejarah. Dalam dunia literasi, ada banyak nama pejuang literasi. Diantaranya terdapat sejumlah sosok perempuan pemberani yang telah memberikan kontribusi besar dalam mengangkat derajat literasi di negeri ini. Keberanian mereka dalam menghadapi tantangan pada zamannya telah meninggalkan jejak yang menginspirasi banyak orang.  Dengan mengenali mereka, mungkin kita bisa mengerti mengapa mereka memilih berjuang di jalan terjal literasi.

Mari kita mengenali lebih dekat keenam perempuan pemberani penggiat literasi tersebut dalam narasi yang singkat ini:

  1. Sultanah Safiatuddin.

Sebagai seorang penguasa wanita pada abad ke-17 di Aceh, Sultanah Safiatuddin tidak hanya dikenal sebagai seorang pemimpin yang bijaksana, tetapi juga sebagai penggiat literasi yang luar biasa. Ia dikenal memiliki minat yang mendalam terhadap ilmu pengetahuan dan sastra, ia mendirikan perpustakaan negara dan mendukung cendikiawan dan sastrawan. Melalui kepemimpinan Sultanah Safiatuddin dan juga penerus-penerusnya, kita dapat melihat bahwa kepemimpinan perempuan memberikan dampak signifikan, terutama pada perkembangan ilmu pengetahuan. Menjadi penyemangat pada kita, bahwa perempuan pun bisa menjadi pemimpin perubahan.

  1. Raden Ayu Lasminingrat

 

Sebagai tokoh perempuan Jawa pada awal abad ke-20, Raden Ayu Lasminingrat dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Karya-karyanya yang beragam, mulai dari cerita pendek hingga novel, telah memberikan sumbangan besar dalam perkembangan sastra Indonesia modern. Ia menerjemahkan berbagai buku bacaan anak dari negara lain, sehingga memperkarya sumber bacaan. Melalui Raden Ayu Lasminingrat kita belajar bahwa perempuan pun dapat memberdayakan melalui pena dan sastra.

 

  1. Kartini

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa Kartini merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan emansipasi wanita di Indonesia dan literasi. Kita mengenalnya melalui surat-surat yang ia kirimkan kepada temannya, namun lebih dari itu Kartini bahkan menulis jurnal-jurnal yang memperkenalkan budaya Indonesia, ia telah menginspirasi banyak orang dengan gagasannya tentang pentingnya pendidikan dan literasi bagi perempuan. Bagi masyarakat Indonesia, Kartini adalah simbol semangat perempuan yang bisa bersuara di kancah dunia meskipun ruang publik saat itu begitu terbatas bagi kaumnya. Saking fenomenalnya Kartini, 21 April menjadi hari masyaraat Indonesia merayakan makna dan peran perempuan.

  1. Raden Dewi Sartika

 

Sebagai pendiri sekolah pertama untuk perempuan di Indonesia, Raden Dewi Sartika telah meninggalkan warisan yang tak terhapuskan dalam sejarah pendidikan di Indonesia. Keberaniannya dalam mendirikan sekolah “Sakola Istri”, pada masa itu, pendidikan perempuan masih dianggap tabu, menunjukkan betapa kuatnya tekadnya untuk meningkatkan literasi di kalangan perempuan.  Dewi Sartika mencoba mematahkan paradigma masyarakat saat itu, yang menganggap membaca dan menulis hanya layak dikuasai kaum adam. Sekolah yang didirikannya memberikan kesempatan pada banyak perempuan untuk belajar aksara, dan mungkin berkat upayanya kita kaum perempuan saat ini bisa menikmati berbagai akses Pendidikan.

 

 

  1. Ruhana Kuddus

Sebagai seorang penulis dan sastrawan Indonesia pada abad ke-20, Ruhana Kuddus telah menciptakan karya-karya yang menggambarkan kehidupan dan perjuangan perempuan Indonesia. Ia tidak hanya berjuang melalui pena dan penerbitan, sebagai seorang pemimpin Surat Kabar Perembuan bergerak, Rohana juga memberikan banyak ide dan gagasan selama perang melawan penjajahan di Payakumbuh.  Ruhana adalah cerminan antara pena dan gerak, dimana perempuan bisa ambil peran baik di balik meja maupun di medan pertempuran.

  1. Siti Rukiah Kertapati

Sebagai seorang feminis dan penulis pada awal abad ke-20, Siti Rukiah Kertapati dikenal karena karyanya yang berani dan revolusioner. Ia menulis tentang kesenjangan gender dan ketidakadilan sosial, serta mendorong perempuan untuk berdiri dan memperjuangkan hak-hak mereka melalui tulisan-tulisannya. Namun, jalan juangnya tidak mudah, ia dianggap sebagai PKI dan teraflisiasi dengan Gerwani, sehingga meskipun tulisannya banyak dan bagus, namanya tidak teridentifikasi dan harus disembunyikan. Saat ini, ada banyak kemudahan bagi perempuan untuk menuliskan pemikiran-pemimkirannya, semoga para perempuan bisa berjuang dan mengoptimalkan potensi.

 

Itulah 6 potret perempuan pejuang  literasi, tentunya ada ratusan dan mungkin ribuan perempuan-perempuan yang berjuang di masanya. Tulisan ini hanya untuk mengingatkan kita pada perempuan agar tetap mengenali potensi diri, berdaya dan mandiri serta bisa berkontribusi pada masyarakat dan memajukan negeri ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]