Webinar Penguatan Literasi di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital, muncul tantangan besar: hoaks, disinformasi, distraksi media sosial, hingga isu keamanan data. Tantangan ini semakin kompleks ketika kita bicara tentang akses digital untuk anak-anak, khususnya anak-anak berkebutuhan khusus. Literasi kini tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup literasi digital: kemampuan memahami, memilah, dan memanfaatkan informasi di era teknologi. Oleh sebab itu, dalam rangka memperingati Hari Literasi Internasional pada tanggal 8 September, Sekolah Literasi Indonesia mengadakan kegiatan webinar yang diselenggarakan pada tanggal 27 September 2025.

Sekolah Literasi Indonesia selama ini memiliki berbagai kegiatan pengembangan budaya literasi di tiga ranah utama, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Baik secara daring maupun luring, SLI telah banyak membina dan memberikan dampak ke seluruh Indonesia. Dengan semangat tersebut, SLI mengadakan webinar dengan tujuan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya literasi digital di era saat ini, membekali orang tua dengan strategi praktis agar anak berkebutuhan khusus mendapat akses literasi digital yang adil, serta menyajikan praktik baik gerakan literasi berbasis komunitas untuk memperkuat ekosistem literasi digital. Tema webinar yang diusung adalah Penguatan Literasi di Era Digital: Inklusif, Kreatif, dan Kolaboratif.

Dari perspektif orang tua, SLI mengundang narasumber Kak Isti Bani, seorang relawan Komunitas Keluarga Kita (Yayasan Keluarga Kita Berdaya). Narasumber kedua adalah Ibu Lili Musyafa’ah, Direktur Lembaga Kursus dan Pelatihan Pendidikan Vokasi Qualy Internasional Surabaya. Narasumber ketiga adalah Mas Andi Ahmadi dari Sekolah Literasi Indonesia.

Kak Isti memperkenalkan kurikulum pendidikan keluarga berbasis riset dan pengalaman dari para pendiri Keluarga Kita yang diniatkan sebagai upaya untuk berkontribusi dalam perubahan pendidikan Indonesia, serta menginisiasi Rangkul (Relawan Keluarga Kita) yang berperan sebagai penggerak pendidikan keluarga. “Tidak ada orang tua yang sempurna dan karenanya pengasuhan bukanlah urusan personal, melainkan komunal dan perlu kita upayakan bersama,” ujar Kak Isti.

Sebagai upaya untuk mengakselerasi pendidikan keluarga dengan melibatkan para pemangku kepentingan, Keluarga Kita juga menginisiasi Sekolah Rangkul Keluarga, yaitu program pendidikan keluarga berbasis sekolah dan madrasah. Selain itu, Kelas Keluarga Kita juga dijalankan dengan kolaborasi bersama korporasi dan industri untuk menjangkau para orang tua yang menjalankan multiperan. Bersama relawan-relawan yang tersebar di berbagai kota/kabupaten, semangat belajar terus disebarkan dan ditangkap oleh para orang tua untuk terus memperbaiki diri agar dapat mencintai dengan lebih baik.

Tantangan Terkait Tumbuh Kembang Anak dan Penggunaan Gawai

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Tunas, yang meliputi penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak, pengawasan penyelenggaraan sistem elektronik dalam pelindungan anak, sanksi administratif, serta peran kementerian/lembaga dan masyarakat.

Pokok-pokok dari peraturan ini mencakup:

  1. Verifikasi usia
  2. Klasifikasi konten
  3. Regulasi keamanan
  4. Parental control
  5. Regulasi platform
  6. Regulasi hukum
  7. Kolaborasi lintas sektor

Apa yang Dapat Orang Tua Lakukan dalam Menemani Penggunaan Gawai dan Media Sosial Anak?

  1. Cari Cara: Berikan alternatif kegiatan di luar penggunaan gawai sesuai usia anak untuk mendorong tumbuh kembang anak. Instal parental control pada gawai yang digunakan anak.
  2. Ingat Impian Tinggi: Buat kesepakatan bersama terkait penggunaan gawai, serta lakukan diskusi sesuai usia anak.
  3. Terima Tanpa Drama: Berempati saat anak ingin menggunakan gawai, dan validasi emosinya tanpa melanggar kesepakatan bersama.
  4. Tidak Takut Salah: Beri teladan dalam penggunaan gawai, tinjau ulang, dan refleksikan kesepakatan bersama.
  5. Asyik Main Bersama: Temani anak bereksplorasi dengan gawai sesuai usianya, serta bermain permainan yang sesuai dengan usia anak.

Penggunaan gawai dalam keluarga bukan hanya soal pembatasan bagi anak, tetapi juga kebijaksanaan penggunaan gawai oleh orang tua. Terutama bila anak masih meminjam gawai orang tua, harus dipastikan isi galeri maupun jejak pencarian tidak mengandung konten yang berbahaya atau tidak pantas dilihat anak. Cara orang tua menggunakan gawai dan berselancar di dunia digital juga akan menjadi contoh atau teladan bagi anak. Orang tua dapat memberikan bimbingan tentang bagaimana mencari dan memanfaatkan gawai serta media digital untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat.

Menurut Ibu Lili, “Sebagai orang tua yang memiliki anak spesial, kita perlu memberi ruang bagi anak untuk berekspresi dan belajar di era literasi digital. Anak memiliki kesempatan yang sama, tugas kita adalah mengapresiasi, memberi peluang, dan mendampingi dengan bijak.”

Tentu saja, ada tantangan berbeda bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Tantangan dalam mengakses literasi digital antara lain: keterbatasan aksesibilitas, perbedaan tingkat kognitif, materi pembelajaran yang tidak inklusif, kurangnya pendampingan, kerentanan terhadap eksploitasi, rendahnya literasi privasi, serta minimnya proteksi sistem.

Prinsip Literasi Inklusi
Makna: Semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar literasi (membaca, menulis, memahami informasi, hingga literasi digital).
Implementasi: Menyediakan bahan bacaan dalam berbagai format (cetak besar, braille, audio, digital) serta menyediakan perangkat pendukung (screen reader, aplikasi teks ke suara, dan media visual). Lingkungan belajar ramah inklusi, misalnya ruang kelas dengan pencahayaan yang baik, kursi, dan alat bantu yang sesuai kebutuhan anak.

Adaptasi Kebutuhan
Makna: Literasi tidak dapat dipaksakan dengan metode tunggal; perlu disesuaikan dengan kondisi, kemampuan, dan gaya belajar masing-masing anak.
Implementasi:

  • Anak dengan hambatan penglihatan → bahan bacaan braille atau audio.
  • Anak dengan hambatan pendengaran → buku cerita dengan bahasa isyarat, teks visual, dan gambar.
  • Anak dengan hambatan intelektual → bahan bacaan sederhana dengan ilustrasi atau cerita bergambar.
  • Anak dengan spektrum autisme → struktur pembelajaran terjadwal, teks yang jelas, serta penggunaan visual yang konsisten.

Keterlibatan Keluarga
Makna: Orang tua atau keluarga adalah lingkungan literasi pertama bagi anak. Tanpa keterlibatan mereka, literasi inklusif tidak akan optimal.
Implementasi:
Orang tua mendampingi anak saat membaca atau menggunakan media digital. Keluarga menyediakan waktu khusus untuk aktivitas literasi (membacakan cerita, berdiskusi tentang gambar, bermain huruf atau angka). Orang tua dilibatkan dalam pelatihan literasi inklusif oleh sekolah atau guru sehingga mereka paham cara mendukung anak di rumah. Selain itu, perlu menjalin komunikasi antara guru dan orang tua untuk memastikan metode literasi di sekolah sejalan dengan pembiasaan di rumah. Ada satu pesan penting dari Ibu Lili: anak ABK juga memiliki perasaan yang harus diperhatikan. Baik oleh orang tua, guru, teman, maupun masyarakat.

Sekolah Literasi Indonesia memiliki berbagai program Gerakan Cerdas Literasi Digital. Program tersebut antara lain:

  1. Forum Literasi Lintas Peran
    Membuat wadah komunikasi yang berisi orang tua, guru, dan penggiat literasi masyarakat.
  1. Kelas Literasi Digital Kolaboratif
    Bekerja sama dengan orang tua, sekolah, Taman Bacaan Masyarakat, karang taruna, dan lain-lain. Kelas ini juga terbuka untuk warga umum, bukan hanya orang tua siswa.
  1. Program Sahabat Digital
    Program pemilihan dan bimbingan bagi remaja Duta Gemari Baca SLI sebagai motor penggerak literasi dari kalangan remaja di suatu wilayah.
  1. Produksi dan Publikasi Konten Positif Bersama
    Anak-anak didorong untuk membuat konten kreatif, seperti cerita digital, vlog literasi, reviu buku, atau audio buku.
    TBM (Taman Bacaan Masyarakat): Mitra SLI yang memfasilitasi anak-anak untuk membuat karya literasi dan mempublikasikannya di media sosial.
    Keluarga: Orang tua mendampingi anak saat berkarya sekaligus belajar teknis sederhana. Masyarakat: Komunitas memfasilitasi pameran karya atau mempublikasikannya di kanal bersama (Instagram, YouTube komunitas).

Melalui kegiatan Webinar Hari Literasi Internasional 2025 ini, Sekolah Literasi Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk terus menghadirkan ruang belajar yang inklusif, kreatif, dan kolaboratif bagi semua kalangan. Tantangan literasi di era digital menuntut kita tidak hanya cakap dalam membaca dan menulis, tetapi juga bijak dalam memilah informasi, menjaga keamanan digital, serta membangun ekosistem literasi yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Refleksi dari para narasumber menunjukkan bahwa literasi digital bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan bagian dari pembentukan karakter dan empati. Anak-anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, membutuhkan dukungan penuh agar dapat tumbuh menjadi pembelajar mandiri yang kritis dan berdaya di dunia digital.
Sekolah Literasi Indonesia percaya bahwa keberlanjutan gerakan literasi memerlukan kolaborasi nyata lintas peran: orang tua yang mendampingi, guru yang menginspirasi, komunitas yang memfasilitasi, dan lembaga yang terus menumbuhkan budaya literasi. Semoga semangat literasi ini terus menyala, memperluas jangkauan dampak, dan menjadi penggerak perubahan menuju masyarakat pembelajar yang inklusif dan berkeadaban digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA