PENTINGNYA KOLABORAKSI DALAM MENYUKSESKAN PROGRAM

Menilik Pentingnya KolaborAksi dalam Menyukseskan Program

oleh: Andi Ahmadi

“Kolaborasi sejati adalah lingkungan yang mendorong komunikasi, pembelajaran, kontribusi maksimal, dan inovasi.” – Jane Ripley

Setiap pelaksanaan Management Review (MR), ada satu pertanyaan yang selalu disampaikan oleh manajemen. Pertanyaan tersebut adalah terkait rencana kolaborasi antar program. Tentu saja ini adalah hal yang wajar, mengingat di era disrupsi seperti saat ini kolaborasi adalah kunci untuk mencapai tujuan bersama.

Menyadari pentingnya kolaborasi, lembaga kita pun menyepakati “sinergi” sebagai salah satu value-nya, meskipun secara makna ada sedikit perbedaan antara kolaborasi dan sinergi. Menurut KBBI, kolaborasi merupakan bentuk kerja sama untuk membuat sesuatu, sementara sinergi adalah melakukan kegiatan atau operasi gabungan. Ketika seorang karyawan ikut terlibat dalam aktivitas program di departemen lain, itu namanya bersinergi. Ketika dua departemen atau lebih merencanakan sebuah program yang akan dilakukan bersama untuk mencapai tujuan bersama, itu disebut berkolaborasi.

Pertanyaan besarnya adalah ketika selama ini kita melakukan kegiatan bersama (proses sinergi), apakah benar kita sedang bekerja sama dan fokus untuk mencapai tujuan bersama (proses kolaborasi)?

Meskipun mudah untuk kita ucapakan, tapi nyatanya membangun kolaborasi itu tidak semudah yang kita bayangkan. Ada banyak tantangan yang membat kolaborasi tak kunjung kelihatan. dr. Suryani (2021) dalam tesisnya mengatakan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang menghambat implementasi praktik kolaborasi interprofesi yaitu faktor individu, faktor kelompok, hingga faktor organisasi.

Faktor individu seperti karakter, kompetensi dan komunikasi. Faktor kelompok seperti keterbatasan SDM baik secara kuantitas maupun kualitas dan hierarki/senioritas. Sedangkan faktor organisasi meliputi leadership, motivasi, kebijakan organisasi, serta fasilitas pendukung.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dimaknai bahwa dibutuhkan upaya serius dari semua pihak untuk membangun kolaborasi. Hanya mengandalkan inisiatif dari individu tentu saja tidak cukup, perlu didukung dengan adanya kebijakan lembaga yang mampu mendorong_atau bahkan memaksa_karyawannya untuk berkolaborasi.

Pelaksanaan MR sepatutnya mampu dijadikan sebagai momentum refleksi bersama untuk melihat sejauh mana praktik kolaborasi berjalan di antara kita. Mengapa harus masing-masing jika suatu hal bisa dikerjakan bersama yang ujung-ujungnya penerima manfaatnya berputar itu-itu saja?

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]