KEBERSIHAN MENJADI KUNCI SEMANGAT UNTUK BERSEKOLAH

Kebersihan Menjadi Kunci Semangat untuk Bersekolah

Pada tahun 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) menjadi konsultan relawan literasi. Saya ditempatkan di Dusun Nunusan, Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, yaitu sebuah daerah yang dihuni oleh suku asli Talang Mamak dan juga suku Melayu Tua. Mereka yang tinggal jauh dari perkotaan sehingga masih memerlukan pendampingan dari segi pendidikan.

Kelas filial SDN 004 Rantau Langsat terletak di Dusun Nunusan, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Dusun Nunusan terletak di tengah hutan belantara tanpa ada jaringan sinyal yang memadai. Salah satu moda tranportasi untuk menuju ke sana adalah dengan menggunakan sampan, karena pemukiman warga berada di tepian sungai Batang Gansal.

Saya tidak pernah menyangka akan ditempatkan di sekolah yang letaknya sangat jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Berada di tempat yang asing, tanpa mengenal satu pun orang di sana. Saya diamanahkan mantan kepala desa untuk tinggal di rumah salah seorang warga yang sama sekali tidak pernah kenal sebelumnya.

Jarak tempat saya tinggal tidak begitu jauh dari sekolah tempat saya mengabdi. Jaraknya hanya sekitar 15 meter. Di kampung itu hanya ada 17 rumah yang hidup secara berkelompok, hidup yang dibatasi dengan  hutan, hutan yang masih bagian dari kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Masyarakat yang tinggal di kawasan itu pun tidak terlalu banyak jumlahnya. 

Kondisi sekolah yang menjadi tempat saya berbagi keceriaan dengan anak-anak jauh dari kata layak. Terdapat dua kelas yang dindingnya dipenuhi bekas tanah liat yang menempel. Selain itu, jumlah siswa hanya ada 20. 

Dengan kondisi siswa yang hampir keseluruhannya hidup di bawah kemiskinan maka tak heran bahwa untuk bersekolah pun mereka tidak memiliki seragam dan sepatu. Bahkan hanya memiliki buah buku dan terkadang alat tulis seperti pena pun harus meminjam kepada teman yang lainnya. Ketika berangkat sekolah sebagian besar dari mereka terkadang kebanyakan tidak mandi, dan baju yang digunakan jauh dari kata layak pakai. Selain itu, sampah bertebaran di mana-mana sehingga area sekolah sangat kotor dan kumuh.

Akibat tidak memakai alas kaki ke sekolah, alhasil kelas menjadi sangat kotor, penuh dengan tanah dan lumpur. Hal tersebut menjadi alasan rentannya mereka terserang berbagai penyakit kulit. Tak hanya sampai sit, sekolah juga tidak memiliki toilet, sehingga jika siswa ingin membuang air besar atau pun kecil, rerumputan semak-semak halaman belakang sekolah adalah sarananya. Area belakang sekolah yang berbatasan langsung dengan hutan karet milik warga.

Melihat kondisi tersebut, saya bergumam bahwa yang menjadi poin pertama untuk dicarikan solusinya adalah tentang budaya hidup bersih agar memudahkan menjalankan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) karena betapa pentingnya kebersihan untuk kesehatan para siswa juga terhadap lingkungan sekitar sekolah. 

Langkah awal yang saya lakukan adalah membuat kesepakatan bersama dengan para guru dan siswa tentang menjaga kebersihan, baik kebersihan lingkungan sekolah, kelas maupun diri siswa.

Kegiatan yang pertama dilakukan adalah setiap paginya para siswa berkumpul di halaman sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk mendisiplinkan siswa, baik dari segi kehadiran maupun kebersihan  badan dan juga pakaian. Dari kegiatan tersebut, sebagian dari mereka yang jarang mandi mulai membiasakan diri untuk mandi. Walaupun mereka tinggal di tepian sungai, namun untuk mandi pagi sangat jarang dilakukan. Oleh karena itu, disepakatilah regulasi sekolah tentang wajib mandi pagi sebelum ke sekolah.

Hal ini tidaklah mudah untuk diterapkan, sehingga di awal peraturan ini diberlakukan, pelaksanaannya tidak maksimal. Dari kondisi yang terjadi tersebut, saya berinisiatif menerapkan hukuman bagi para siswa yang tidak mandi dan tidak berpenampilan rapi. Hukumannya adalah mengambil sampah sebelum masuk ke dalam kelas.

Salah satu kendala lainnya yang menjadikan program kebersihan ini tidak berjalan optimal adalah tidak adanya toilet atau kamar mandi, sehingga masih banyak siswa yang membuang air di sembarang tempat. 

Pada program SLI terdapat kegiatan parenting yang melibatkan orang tua untuk turut berperan aktif di sekolah. Tentu saja orang tua memiliki peran yang sangat penting sebagai kontrol utama tumbuh kembang anak dan orang tualah yang harus memperhatikan anaknya sebelum berangkat ke sekolah.

Melalui kegiatan parenting, saya berkesempatan memberikan pesan-pesan positif tentang nilai kebersihan dalam mewujudkan anak yang sehat, rapi dan berprestasi. Semenjak adanya sinergi dengan orang tua, kebersihan dan kerapian berangsur membaik. Orang tua pun mulai lebih memperhatikan kebersihan dan kerapian anak sebelum berangkat sekolah.  

Tidak hanya itu saja para orang tua juga bersepakat untuk membuat toilet apung yang berada di dekat sekolah guna untuk menjaga kebersihan sekolah maupun lingkungan sekolah dan memudahklan siswa dalam membuang kotoran. Semuanya dilakukan secara bersama-sama untuk kegiatan pembangunan toilet apung tersebut. Mulai dari mencari kayu, papan, dan kebutuhan lainnya.

Alhamdulillah, semuanya dapat terlaksana dengan baik. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan mulai terbangun, sehingga masyarakat pun dapat menyadari bahwa hal yang berkaitan dengan kebersihan dapat memengaruhi semangat anak dalam belajar. Perubahan pun langsung dirasakan masyarakat dengan apa yang telah dilakukan bersama-sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

POST LAINNYA

Muna (18/05) – Pegiat Literasi Indonesia (PELITA) Angkatan 4 Kabupaten Muna melaksanakan sosialisasi program[…]